debat bahasa inggris

English Debating Society, Langkah awal menaklukan dunia

Modal utama dalam hal berkompetisi baik didunia kerja, maupun di sekolah salah satunya adalah penguasaan bahasa asing baik lisan maupun tertulis dan salah satu bahasa asing yang wajib dikuasai adalah bahasa inggris. Cara yang sangat efektif untuk melatih kemampuan bahasa inggris terutama dalam hal kemampuan verbal adalah dengan terus berlatih dan membiasakan diri dengan lingkungan mendukung, salah satunya dengan mengikuti klub debat.

Debat bahasa inggris sudah mulai marak diadakan baik oleh SMU/SMK maupun perguruan tinggi negeri/swasta. Di level nasional ada gelaran kompetisi debat bahasa inggris IVED (Indonesian Varsities English Debate), JOVED (Java Overland Varsities English Debate), FT (Founder’s Throphy), ALSA, NSDC (National School Debating Championship), NUEDC (National University English Debating Championship), dsb. Dari beberapa gelaran lomba debat nasional, baik untuk tingkat universitas maupun SMU, tim dari Kalsel masih dibilang tertinggal dibandingkan tim dari jawa, hal ini disebabkan oleh sangat jarangnya diadakan lomba debat dengan format standar (Australasian Parliamentary, Asian Parliamentary, and British Parliamentary).

Australasian dan Asian Parliamentary debate menggunakan format 2 tim beranggotakan masing-masing 3 orang pembicara yang berperan sebagai first speaker, second speaker, third speaker dan reply speaker, satu tim mewakili Pemerintah (Government), dan tim yang lainnya mewakili Oposisi (Opposition). Satu hal yang membedakan antara Format Australasian dan Asian Parliamentary adalah Asian Parliamentary merupakan pengembangan dari format Australasian dengan memperbolehkan Interupsi (Points of Information) yang boleh diajukan antara menit pertama dan keenam. Reply Speech atau Pidato Penutup adalah salah satu ciri khas dari format debat Australasian dan Asian dimana kedua tim mendapatkan kesempatan untuk memberikan pidato penutup sebagai media untuk mempertegas argumen, menyimpulkan isi debat dan juga kesempatan terakhir untuk meyakinkan para juri dalam pengambilan keputusan.

Format debat yang juga sering menjadi standar dalam sebuah kompetisi adalah British Parliamentary. Format debat ini populer digunakan di Inggris dan sekarang sudah menjadi salah satu format debat standar untuk lomba debat internasional, salah satunya adalah WUEDC (World Universities English Debating Championship). Dalam format ini, ada 4 tim yang bertanding dengan masing-masing memiliki 2 orang pembicara. 2 tim mewakili Pemerintah (Opening dan Closing Government), dan 2 tim mewakili Oposisi (Opening dan Closing Opposition). Dalam Format debat ini juga diperbolehkan untuk melakukan interupsi seperti halnya format Asian Parliamentary. Di Indonesia British Parliamentary Debate digunakan pada kompetisi debat Founder’s Throphy yang diselenggarakan oleh Komunitas Debat Bahasa Inggris Universitas Indonesia setiap tahun.
Di Kalimantan Selatan, format yang sering dijumpai pada lomba debat adalah kompetisi debat yang tidak standar, baik dalam hal format kompetisi yang digunakan, poin penilaian, durasi waktu serta penjurian. Hal ini yang menyebabkan perkembangan debat bahasa inggris didaerah di kalsel agak sedikit tertinggal. Akibatnya, seringkali peserta debat dari SMU/SMK maupun Universitas tidak dapat berbuat banyak pada saat berkompetisi di level nasional.

Ada banyak hal yang melatarbelakangi hal ini terjadi, diantaranya yaitu kurangnya perhatian dari sekolah dan universitas untuk mengirimkan perwakilannya untuk berkompetisi secara nasional secara rutin, serta kurangnya pelatih debat yang berkompeten untuk dapat memberikan arahan dan bimbingan kepada siswa atau mahasiswa peserta debat dalam latihan maupun persiapan untuk mengikuti lomba debat skala nasional.
Seiring dengan berjalannya waktu, sekolah-sekolah dan universitas sudah mulai sering mengadakan lomba debat dengan format yang sudah standar, sehingga kualitas peserta menjadi lebih baik. Perkembangan kearah positif ini juga sudah mulai diadopsi oleh institusi pemerintah dalam hal penyelenggaran lomba debat. Pada tanggal 10-12 April 2012 telah diadakan lomba debat bahasa inggris tingkat SMU dan SMK oleh Dinas Pendidikan Kota Banjarbaru, dalam lomba ini sudah diadopsi sistem Australasian Parliamentary English Debate meskipun dengan beberapa penyesuaian kecil dari sesi durasi waktu dan poin penilaian juri. Pada kompetisi tersebut SMAN 1 Banjarbaru untuk kategori SMA dan SMK Telkom untuk kategori SMK keluar sebagai juara setelah mengalahkan para pesaingnya.

Selain Seleksi Debat oleh Diknas Kota Banjarbaru, Kopertis juga mengadakan seleksi Debat Bahasa Inggris Regional Kalimantan tanggal 27-28 April 2012, untuk berkompetisi di NUEDC dengan Format British Parliamentary dan diikuti oleh 14 tim dari universitas negeri maupun swasta di Kalimantan. Pada seleksi regional Kalimantan ini, terseleksi 8 tim untuk mengikuti NUEDC nasional yaitu; Universitas Palangkaraya, Unlam, Uniska Banjarmasin, POLTEQ Pontianak, STIKES Muhammadiyah Banjarmasin, Universitas Tanjung Pura, Universitas Mulawarman, dan Universitas Balikpapan. Pada seleksi regional ini, Universitas Palangkaraya keluar sebagai juara, Unlam sebagai Runner Up, Uniska Banjarmasin Juara ketiga dan POLTEQ Pontianak sebagai juara keempat. Seluruh peserta dari regional berjumlah sekitar 96 tim akan berkompetsisi untuk mendapatkan 4 tiket ke WUDC di kota Berlin, Jerman, masing-masing 3 tim teratas dari main draw, dan 1 tim teratas dari novice (pemula).

Dari sisi kemampuan bahasa inggris, Kalsel sebenarnya mempunyai potensi yang besar dan juga kualitas yang tidak kalah dari provinsi lain di Kalimantan, pembinaan yang tepat serta sistem kompetisi dengan bagus dan sesuai dengan kaidah aturan standar debat parlemen merupakan jawaban dari ketertinggalan kalsel dalam hal kompetisi debat. Selain itu di level regional Kalimantan, Kemampuan dari universitas negeri maupun swasta di Kalsel sebenarnya sudah sangat merata, hal ini dibuktikan dari masuknya 3 tim dari Kalsel ke 8 besar regional untuk dikirim ke level nasional. Dengan memiliki SDM yang menguasai bahasa asing, diharapkan kedepannya lulusan dari Kalimantan Selatan dapat mampu berbicara banyak di level nasional maupun internasional.

Dalam beberapa tahun terakhir, sudah banyak klub bahasa inggris yang bermunculan, baik disekolah-sekolah, universitas, maupun komunitas debat independen. Salah satu komunitas debat yang berkembang sangat pesat adalah BEDA (Borneo English Debate Association). BEDA merupakan komunitas debat independen dengan komposisi anggota yang terdiri dari SMU/SMK, Universitas Negeri/Swasta, dan Umum.

Anggota BEDA sering dipercaya tampil sebagai juri pada lomba debat dan juga menjadi pelatih debat bagi SMU/SMK dan Universitas. Salah satunya adalah pada kompetisi regional yang diadakan Kopertis, 2 juri dari BEDA diberikan kehormatan menjadi bagian dari 5 orang panelis juri untuk grand final seleksi regional Kalimantan. Kebanyakan anggota BEDA sudah pernah kompetisi debat tingkat nasional, bahkan beberapa anggota BEDA sudah terakreditasi sebagai Juri ditingkat nasional dengan Grade A dan B. BEDA juga sering membantu dalam hal persiapan anggotanya untuk berkompetisi di level nasional dengan latihan-latihan rutin dan kompetisi internal guna terus melatih kemampuan debat para anggotanya.

Herry A Pradana
Peneliti di Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Prov. Kalsel
Anggota Borneo English Debate Association (BEDA)