Fenomena Melejitnya Harga Emas


Fenomena Melejitnya Harga Emas

Efek dari Krisis ekonomi global serta krisis utang di AS membuat kondisi pasar global menjadi bergejolak, beberapa harga komoditas mengalami fluktuasi yang sangat tinggi, bahkan dampak dari penurunan peringkat utang AS oleh Standards&Poor’s dari AAA menjadi AA+ memperparah situasi, terutama di perdagangan bursa di negara-negara Eropa, AS dan bahkan Asia. Selain itu, dengan semakin menurunnya kepercayaan pasar global terhadap Dollar AS, investor juga mulai melirik pasar Asia yang memiliki pondasi yang kuat, sehingga banyak dana asing masuk ke bursa Asia, tidak terkecuali Indonesia, bahkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mencatatkan rekor terbaiknya dengan menembus level psikologis 4000.

Meskipun pada akhirnya Plafond Kredit AS sudah disetujui untuk dinaikan, pasar saham dunia masih mengalami pergolakan, dikarenakan prospek perekonomian AS masih dianggap suram. Hal ini bisa dilihat dari tren penurunan harga minyak dunia, karena perekonomian AS diperkirakan akan melemah sehinga membatasi permintaan minyak. Sentimen negatif tersebut bahkan memaksa bursa Asia juga ikut terkena imbasnya, sempat melonjak tinggi dipasar perdagangan, Indeks Saham di Bursa Asia akhirnya mengikuti tren penurunan global ditengah kekhawatiran akan meluasnya krisis keuangan tersebut pada sektor ekonomi lainnya.

Disisi lain, Harga Emas terus mengukir rekor tertingginya dibeberapa bulan terakhir ini. Bahkan tercatat harga Emas telah melampaui 1900 dolar AS per troy ounce atau naik sekitar 30 persen selama beberapa minggu terkahir ini. Beberapa bank internasional terkemuka bahkan sudah memperbaharui prediksi harga kedepan Emas mereka. JPMorgan memperkirakan harga emas spot akan terus naik hingga 2.500 Dollar AS per troy ounce pada akhir tahun nanti, naik dari perkiraan sebelumnya yaitu 1800 Dollar AS. Selain JPMorgan, Morgan Stanley, ANZ, Barclays Capital, Goldman Sachs, HSBC serta beberapa produsen Emas dunia juga menaikan prediksi atas harga Emas mereka dalam beberapa tahun mendatang.

Selain dari imbas dari krisis utang AS dan terus meningkatnya harga Emas dipasaran, bahaya Inflasi terus mengintai di tengah tren kenaikan Inflasi pada saat mendekati bulan Ramadhan serta faktor future expectation dari masyarakat. Dilihat dari kondisi Inflasi yang mencapai 4.61% year-on-year, tingkat Inflasi ini masih dalam batas normal, hal ini dilihat dari langkah Bank Indonesia yang mempertahankan Suku Bunga Acuan dilevel 6.75%. Dengan kondisi pasar global yang sedang bergejolak, tren naik Inflasi yang masih dalam level wajar serta BI rate yang berada pada posisi yang kuat, diharapkan akan memacu pertumbuhan kredit dan menstabilkan nilai tukar Rupiah, yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. BI bahkan optimis, tekanan Inflasi tetap terkendali sesuai sasaran Inflasi 5 plus minus 1 persen pada tahun 2011 dan 4.5 plus minus 1 persen pada tahun 2012 dapat tercapai.

Dengan masuknya bulan Ramadhan, Inflasi yang terjadi lebih bersifat Inflasi musiman dengan faktor pendorong dominan dari industri makanan, terutama dalam hal ini gula. Tekanan Inflasi dari sektor konsumsi makanan dan gula diperparah dengan kebiasaan masyarakat melakukan pembelian bahan sembako dan gula secara besar-besaran pada saat bulan Ramadhan sampai menjelang Lebaran Idul Fitri, yang menyebabkan tingginya permintaan gula di beberapa daerah yang pada akhirnya menjadikan sektor makanan dan gula, salah satu penyumbang inflasi terbesar di triwulan ketiga ini.

Kalimantan Selatan dalam hal ini juga terkena imbas inflasi dengan gula sebagai salah satu faktor pendorongnya. Dilihat dari sisi ketersediaan stok gula, sebenarnya Kalsel cukup aman, hal ini terbukti dari laju inflasi bulan juni tertahan oleh ketersediaan pasokan gula, namun faktor dari future expectation masyarakat dan bulan Ramadhan, menyebabkan terjadinya pembelian secara besar-bsaran oleh masyarakat yang mengakibatkan tingginya harga gula dipasaran. Faktor future expectation dalam hal ini yaitu anggapan masyarakat terhadap kondisi harga dan pasar dimasa depan, yang rentan terpengaruh oleh berbagai isu, kebijakan dan perkembangan ekonomi lokal dan nasional.

Selain faktor diatas, kenaikan harga gula juga dipacu oleh kenaikan harga komoditas pertanian secara global, terkait dengan buruknya cuaca dan banyaknya kendala pada saat masa panen, sehingga beberapa komoditas pokok disektor pertanian arus produksi dan distribusinya menjadi sedikit terganggu. Dengan kondisi konsumsi dan konsentrasi pabrik gula di Indonesia paling banyak berada di wilayah Jawa dan Sumatera, sehingga salah satu cara menghindari potensi Inflasi yang disebabkan oleh gula adalah dengan perencanaan matang dalam hal produksi dan pendistribusian komoditas tersebut. Perencanaan yang matang ini dapat dimulai dengan melakukan studi komprehensif mengenai pola konsumsi masyarakat terhadap gula serta melakukan penelitian mengenai tren inflasi terhadap sektor makanan dan gula, sehingga pada prakteknya, tekanan inflasi yang disebabkan oleh gula sebagai faktor pendorong dapat ditekan ke batas normal dan wajar.

Peranan Pemerintah Daerah juga dirasa perlu dalam hal melakukan pengawasan secara berkala terkait kestabilan harga gula dan komoditas lain di pasaran, dengan cara melakukan inspeksi pasar. Pengawasan tidak hanya dilakukan pada saat menjelang bulan Ramadhan, namun juga harus dilakukan secara terus-menerus agar perkembangan harga dipasar dapat terus dipantau, sehingga produsen dan konsumen menjadi terlindungi dari tekanan ketidakstabilan harga.

Herry A Pradana, SE – Peneliti di Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s