Fotografi


1.  Sensor Kamera Digital

 Pixel dan Resolusi

Pixel adalah titik penyusun terkecil dalam sebuah gambar digital. Setiap pixel memiliki informasi warna, dalam kasus ini aku anggap ini tentang gambar berwarna atau full color.  Megapixel : Ukuran File dan Ukuran Cetak Sebuah kamdig dengan sensor 2 MegaPixels, menghasilkan file berukuran 1800×1200 pixel (2.16MP), berapa ukuran filenya, serta berapa ukuran cetak maksimumnya? Pada gambar digital -untuk keperluan sehari-hari-, setiap pixel disimpan dalam bentuk data RGB(Red Green Blue), dimana masing-masing warna diberi jatah 8 bit sehingga untuk 3 warna memerlukan 24bit atau 3 byte. Jika menggunakan format bitmap (*.bmp), dimana tiap pixel disimpan secara utuh 24 bit, maka kamera 2MP akan menghasilkan file berukuran sebagai berikut: Ukuran file = Jumlah Pixel x 3 byte Ukuran file = 2.160.000 x 3 Ukuran file = 6.480.000 byte = 6.17 MB Jadi sekali jepretan, kamera digital 2MP menghasilkan gambar sebesar 6.17MB. Walaupun byte metadata (EXIF) bisa diabaikan karena ukurannya cukup kecil, hasilnya ternyata masih sangat besar. Dengan adanya teknik kompresi bernama JPEG,  penyimpanan file grafik menjadi jauh lebih kecil. Untuk kompresi dengan kualitas yang bagus, faktor kompresi JPEG kurang lebih 20% dari ukuran asli, dan lebih kecil lagi untuk kualitas yang lebih rendah. Dengan kualitas sedang, ukuran file diatas bisa menurun drastis menjadi sekitar 600 KB saja atau 10 persen dari ukuran asli. Hasil kompresi ini juga dipengaruhi oleh kompleksitas warna dari gambar asli. Berdasar keterangan diatas, ukuran file JPEG kualitas tinggi bisa diperkirakan/dihitung dengan rumus: Megapixel kali 3 dibagi 10. Atau MP dibagi 3 untuk kualitas tinggi dan MP dibagi 4 untuk kualitas sedang. Sensor 4MP -> 1.3MB per file Sensor 5MP -> 1.7MB per file, dan seterusnya Dengan cara ini bisa diperkirakan berapa file yang bisa ditampung dalam memory card yang dimiliki. Ukuran Cetak Untuk mencetak sebuah gambar dengan kualitas foto, diperlukan printer yang mampu mencetak dengan ketelitian setidaknya 300dpi. Kalau tidak salah, ini adalah standar minimum pada printer Fuji Digital Frontier yang digunakan di studio foto digital Fuji. Angka 300 dpi berarti untuk setiap inch hasil cetak terdiri dari 300 titik warna. Tiap titik warna ini analog dengan data pixel diatas. Dengan demikian, ukuran gambar digital bisa ditentukan sesuai dengan kebutuhan cetak yang diinginkan. Untuk membuat foto ukuran 4R (kurang lebih 4×6 inch) ukuran gambar yang diperlukan adalah Lebar : 4 x 300 = 1200 pixel Tinggi : 6 x 300 = 1800 pixel Ini adalah ukuran file yang didapat dari sensor 2MP. Pada prakteknya, gambar ukuran ini masih bisa dicetak hingga 8R dengan hasil yang masih cukup baik untuk foto yang ditempel di dinding kamar. ISO dan Noise Selain ukuran megapixel, sensor juga berkaitan erat dengan ISO yaitu bilangan yang menunjukkan kepekaan sensor terhadap cahaya. ISO yang kecil (50-100)berarti kurang sensitif, cocok digunakan di tempat yang terang. ISO besar berarti lebih sensitif, cocok digunakan di tempat yang lebih gelap. Semakin besar ISO makin sensitif pula suatu sensor dan pada umumnya akan menimbulkan lebih banyak noise (gangguan warna). Bilangan ISO ini ekuivalen dengan bilangan ASA pada kamera film. Jika pada film hanya bisa menggunakan satu jenis ASA untuk satu roll, pada kamera digital ISO bisa diatur sekehendak hati sesuai dengan keperluan. Saat ini dipasaran kamera kelas konsumen, kepekaan sensor pada umumnya hanya mencapai ISO400, itupun sudah memberikan noise yang cukup mengganggu. Semakin besar ISO yang mampu dilakukan suatu sensor yang mestinya diimbangi dengan semakin kecilnya noise, semakin mahal pula suatu kamera digital. Jika tertulis ISO mencapai 800 tetapi noise yang dihasilkan sangat besar, tentu ini tidak benar Pada kamera kelas low-end, menggunakan ISO 50-pun noise sudah tampak, walaupun tidak mengganggu. Sedangkan pada kamera yang tergolong mahal seperti Canon 7D atau Nikon D300S, noise tidak terlalu mengganggu meskipun di ISO yang cukup tinggi (ISO1000 – 3200). Untuk diingat, kata ‘mengganggu’ sendiri masih subyektif tergantung selera yang melihat fotonya. Beberapa orang juga mengatakan bahwa noise ini berkaitan dengan ukuran fisik sensor, semakin besar sensor, semakin kecil noise yang dihasilkan. Dynamic Range Dua buah televisi yang menayangkan acara tivi yang sama, seringkali memberikan warna yang berbeda. Televisi yang mahal akan memberikan kontras warna yang lebih baik, gambar terasa cerah dan penuh warna, sedangkan tivi yang lebih murah akan memberikan gambar yang tidak terlalu indah. Perbedaan warnanya seperti melihat baju baru dan baju lama pada iklan sabun cuci. Kurang lebih itulah yang menggambarkan istilah dynamic range. Semakin bagus (lebar) dynamic range suatu kamera, semakin indah hasilnya, dan semakin mahal pula harganya. Kalau pada sistem audio, sensor dengan dynamic range tinggi mungkin setara dengan sistem HiFi (High Fidelity). Bagaimana Memilih Kamera Digital Berdasarkan Sensornya? Secara umum, perbedaan pada sensor yang membedakah harga kamera digital adalah: –     Ukuran Megapixel Kamera dengan sensor 2MP sudah bisa menghasilkan gambar cetak ukuran 4R, yang merupakan ukuran standar pencetakan foto. Bahkan sudah diuji-coba dengan mencetak hingga ukuran 8R dan ternyata hasilnya masih cukup baik. Jadi kalau hanya untuk dicetak di kertas 4R, kamera 3MP sudah lebih dari cukup. Tapi jika berniat utk cetak seukuran poster, atau suka mengedit gambar sebelum dicetak (di crop misalnya) pertimbangkan beli kamera dengan resolusi yang besar. –     ISO dan Noise Kamera dengan kepekaan tinggi (ISO besar) harganya lebih mahal. Tapi jika sering diperlukan untuk memotret konser, pameran fashion, atau kegiatan indoor lain tanpa flash, ISO tinggi sangat diperlukan. –           Dynamic range Jika tergolong orang yg sudah puas dan merasa bagus kalo gambarnya bisa dilihat dikomputer berarti dynamic range rendah tidak masalah. Tapi kalau merasa warnanya kok begini? Kontrasnya kok begitu? maka kamera dengan dynamic range tinggi bisa dipertimbangkan. Masalahnya tidak ada kamera yang memberi keterangan mengenai hal ini. Sehingga perlu melihat-lihat ke situs-situs review kamera digital serta melihat sendiri contoh hasil pemotretan dari masing-masing kamera. 2.  Tentang “White Balance” White Balance (WB)adalah istilah fotografi untuk titik kalibrasi berwarna putih, dalam sebuah kamera DSLR fitur WB biasanya untuk mengatur warna dalam kondisi pencahayaan tertentu. Fitur ini cukup penting karena kita dapat menentukan ketepatan warna yang didapat dari sebuah kamera DSLR oleh sumber cahaya yang kita dapat. misalnya kita berfoto di sebuah ruangan dengan sumber cahaya lampu neon (tungsten) atau bohlam berwarna kuning (fluorescent) tentu akan berbeda, sama juga ketika mengambil gambar di luar ruangan apakah itu cahaya matahari ataupun lampu blitz. Kebanyakan kamera digital sekarang dapat diatur untuk memilih warna putih sesuai selera kita, biasanya dengan cara mengarahkan kamera ke obyek berwarna putih dalam sinaran cahaya yang ada, teknik ini disebut manual white balance. Beberapa kamera dapat juga mendeteksi adanya cahaya sekitar dan menentukan sendiri warna putih yang dimaksud – hal ini disebut automatic white balance (AWB). Sedangkan pemilihan WB pilihan jenis lampu yang disediakan pada kamera digital disebut pre-set white balance. Berikut ini adalah beberapa preset WB yang umum ditemui di kamera digital, diurut dari temperatur terendah hingga tertinggi : –     Tungsten atau Incandescent (2500-3500K) : Preset ini cocok untuk mengkompensasi sumber cahaya seperti lampu pijar yang berwarna kekuningan dan biasanya dipakai untuk memotret indoor tanpa lampu kilat. Bila preset ini dipakai pada sumber cahaya lain hasilnya akan sangat biru. –     Flourescent (4000-5000K) : Preset yang disesuaikan dengan temperatur warna dari lampu neon. Di pasaran umumnya tersedia lampu neon dengan dua pilihan yaitu warm white dan cool daylight, dimana temperatur warna kedua jenis ini berbeda. Warm white punya temperatur rendah mendekati lampu pijar, sedang cool daylight punya temperatur warna mendekati sinar matahari di siang hari. –     Daylight (5000 – 6500K) : Cocok digunakan bila memotret di luar ruangan siang hari dengan sinar matahari langsung. –     Flash (5600K) : Preset yang disesuaikan dengan temperatur warna dari lampu kilat kamera. Temperatur warna ini dianggap yang paling natural, tidak kebiruan atau kekuningan. –     Cloudy (6500 – 8000K) : Preset ini untuk dipakai di saat siang hari namun kondisi berawan (kadang bila memakai AWB hasilnya agak kebiruan). Preset ini bisa menghasilkan warna yang lebih hangat bila dibanding dengan preset Daylight saat dipakai di siang hari. –     Shade (8000-10000K) : Preset untuk menghadapi temperatur warna amat tinggi, biasanya terjadi saat berada di bawah bayangan matahari atau kondisi sangat berawan. Gunakan preset Shade bila dengan AWB anda masih mendapati hasil foto yang kebiruan. Bila preset ini dipakai pada sumber cahaya lain hasilnya akan sangat kekuningan. Dengan memilih setting preset WB diatas, pada prinsipnya kitalah yang memberitahu kamera akan sumber cahaya yang kita gunakan untuk memotret. Dengan demikian diharapkan kamera akan memberikan hasil WB terbaiknya untuk sumber cahaya yang ada. Khususnya untuk sumber cahaya matahari, pemilihan preset WB tidak harus selalu memakai preset Daylight semata, karena temperatur warna matahari juga tergantung pada waktu, ketinggian dan awan. Bila memakai preset Daylight atau memakai AWB masih menghasilkan warna yang kebiruan (artinya preset yang kita pilih masih terlalu rendah) bisa mencoba menaikkan temperaturnya dengan memakai preset Cloudy bahkan Shade. Sebaliknya bila foto kita kekuningan (artinya preset yang kita pilih terlalu tinggi), turunkan temperaturnya dengan memakai preset lampu neon bahkan lampu pijar. Pada kamera tertentu tersedia juga fasilitas untuk melakukan manual preset dengan cara mengarahkan kamera ke obyek berwarna putih atau abu-abu untuk mendapat warna yang paling natural. Untuk itu tersedia sebagai aksesori sebuah alat bantu bernama grey card yang biasa dipakai untuk pengaturan WB yang lebih presisi. Bila ketepatan warna menjadi hal yang mutlak, disarankan memotret memakai format RAW sehingga warna yang dihasilkan bisa diatur dengan akurat melalui komputer.

Disclaimer: tulisan diatas BUKAN merupakan tulisan dari penulis, namun dirangkum dari berbagai sumber.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s