Studi Mengenai Penetapan Harga Bahan Bakar Minyak Mentah Indonesia Beserta Faktor-Faktor Penyebabnya


ABSTRAK

Imbas kenaikan harga BBM mulai dirasakan seluruh masyarakat, bahkan efek domino dari kenaikan BBM pun sudah memaksa terjadinya penyesuaian harga-harga kebutuhan pokok jauh sebelum harga BBM dinaikkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses penetapan harga minyak mentah Indonesia beserta faktor-faktor pendukungnya dengan menggunakan analisa deskriftif kualitatif. Secara umum, proses penentapan harga minyak mentah dipengaruhi oleh faktor fundamental dan non fundamental seperti mekanisme penawaran (produksi, stok, kondisi kilang, fasilitas pipa dan kebijakan produksi), level permintaan (pertumbuhan ekonomi, kebutuhan minyak domestic dan internasional, dan ketersediaan sumber tenaga alternative), serta faktor lainnya seperti kondisi politik serta aksi spekulasi minyak).
Kata Kunci: BBM, Harga Minyak Mentah, Permintaan, Penawaran

HASIL DAN PEMBAHASAN

Ada banyak alasan kenapa harga BBM naik menurut versi pemerintah, beberapa diantaranya adalah; Harga minyak mentah dunia yang terus naik, subsidi yang salah sasaran, dan banyaknya aksi penyeludupan BBM karena disparitas harga yang sangat besar. Tren kenaikan harga minyak mentah dunia menjadi salah satu alasan mengapa pemerintah dirasa perlu untuk menaikkan harga BBM, sehingga asumsi harga minyak dalam anggaran harus disesuaikan. Pemerintah tidak mungkin lagi menetapkan asumsi harga minyak mentah (ICP) Indonesia dengan basis harga pada US$90 per barel (harga ICP), sebab harga ICP saat ini sudah melampaui US$115 per barel. Harga ICP secara umum merupakan harga rata-rata tertimbang dari beberapa sumber yang valid, seperti Platts (penyedia jasa informasi energi), RIM (badan independen penyedia data harga minyak untuk area pasar Asia Pasifik dan Timur Tengah) dan APPI (Asian petroleum Price Indeks). Dalam perjalannya APPI sejak tahun 2007 tidak digunakan lagi sebagai analisa penetapan harga ICP, hal ini dikarenakan rendahnya harga minyak hasil olahan dari APPI, belum lagi masalah transparansi dan adanya kemungkinan manipulasi. Jadi secara umum jika ada perubahan harga, pasti akan berimbas kepada ICP.
Pemasalahan subsidi yang salah sasaran juga menjadi salah satu faktor pemicu kenaikan harga BBM. Dengan harga BBM murah, justru yang mendapatkan subsidi terbesar adalah masyarakat yang menggunakan mobil, bukan masyarakat yang selayaknya mendapat subsisdi. Subsidi dalam hal ini diusulkan untuk dialihkan kepada pembangunan infrastruktur. Sebagai contoh, pembangunan infrastruktur listrik yang secara nyata masih tertinggal dari negara tetangga.

Penetapan ICP dan faktor-faktor yang mempengaruhinya
ICP (Indonesian Crude Price) atau harga minyak mentah Indonesia merupakan basis harga minyak mentah yang digunakan dalam APBN. Secara umum ICP adalah harga rata-rata minyak mentah Indonesia di pasar internasional yang dipakai sebagai indikator perhitungan bagi hasil minyak yang ditetapkan setiap bulan dan dievaluasi setiap semester. Sesuai dengan karakteristik dan kualitasnya, sampai dengan saat ini terdapat 50 jenis minyak mentah Indonesia yang masing-masing mempunyai harga yang berbeda. 50 jenis ICP tersebut pada dasarnya terbagi tiga kelompok yaitu:
a. 8 jenis minyak mentah (SLC, Cinta, Widuri, Duri, Attaka, Belida, Arjuna, dan Senipah Condensate); harganya berdasarkan formula ICP yang mengacu pada publikasi APPI, RIM dan PLATT’S.
b. 1 jenis minyak mentah (Bontang Return Condensate/BRC) harganya dihitung berdasarkan Publikasi MOPS Naphta.
c. 41 jenis minyak mentah lainnya harganya dihitung berdasarkan formula yang mengacu pada 8 jenis ICP tersebut di atas.

Beberapa faktor/kondisi pasar minyak internasional yang mempengaruhi ICP:
a. Faktor fundamental:
Faktor yang dipengaruhi mekanisme penawaran (produksi, stok, kondisi kilang, fasilitas pipa dan kebijakan produksi) dan permintaan (tingkat pertumbuhan ekonomi, kebutuhan, musim, dan ketersediaan teknologi sumber tenaga alternatif);
b. Faktor non fundamental:
Faktor lain di luar mekanisme penawaran dan permintaan, seperti: kekhawatiran pasar akibat gangguan politik, keamanan, dan aksi spekulasi di pasar minyak.

Meskipun harga minyak mentah dunia secara dominan dipengaruhi oleh faktor fundamental, namun karena terdapat juga faktor non-fundamental yang mempengaruhi. Sejak periode 1968-1989, Harga resmi minyak mentah Indonesia (ICP) ditetapkan dengan mengacu Patokan Minyak mentah OPEC dan Penerapan TRP (Tax Reference Price) untuk perhitungan pajak KPS, dan ASP (Agreed Selling Price) untuk harga ekspor. Sejak April 1989 diberlakukan Formula ICP.ICP ditetapkan oleh pemerintah dalam hal ini oleh Menteri yang membawahsi bidang perminyakan. Formula ICP diterapkan atau digunakan untuk menghitung 8 jenis minyak mentah/ kondensat utama Indonesia. Sedangkan untuk jenis minyak mentah Indonesia lainnya, penetapan ICP-nya dikaitkan dengan 8 jenis minyak mentah tersebut berdasarkan persamaan spesifikasi/kualitas dan berdasarkan pendekatan relative value.

Harga jual premium yang sebelumnya adalah Rp. 4.500,-/liter dirasa sangat rendah dibandingkan harga pokoknya, sehingga pemerintah harus mengambil langkah-langkah untuk menambal kekurangan tersebut dengan pola subsidi dari APBN. Dengan semakin melonjaknya harga minyak dunia dan semakin tingginya konsumsi domestik, membuat bengkaknya alokasi subsidi untuk sektor tersebut. Pemerintah telah mematok harga minyak mentah Indonesia sebesar $90 per barel, namun dengan tidak stabilnya harga minyak mentah dunia membuat harga minyak mentah diindonesia melonjak menjadi $122.17 per barel. Dengan kenaikan tersebut subsidi untuk BBM otomatis juga mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Jika harga minyak terus dunia terus mengalami kenaikan, APBN tidak akan mampu lagi mengakomodasi besaran subsidi yang harus dikeluarkan oleh pemerintah.
Dikarenakan ada subsidi yang diberikan oleh pemerintah, harga BBM di Indonesia jauh lebih murah dibandingkan negara-negara tetangga, dari fakta tersebut maka peluang penyeludupan juga menjadi salah satu isu serius yang harus dapat diselesaikan.Dengan pola pemikiran tersebut, ada banyak kontroversi mengenai tepat atau tidaknya harga BBM untuk dinaikkan, hal ini dikarenakan Indonesia dianggap sebagi negara penghasil minyak dan apabila harga minyak dunia naik, seharusnya Indonesia diuntungkan dari sisi penerimaan migas. Dengan kondisi tersebut, peneliti mencoba melihat dari perspektif pengeluaran negara, dimana setiap kenaikan harga sebesae $1 per barel, dengan asumsi kurs dolar Rp. 9.000,-, maka akan menaikkan penerimaan negara sekitar Rp. 3.3 triliun, namun kenaikan $ 1 per barel juga meningkatkan pengeluaran negara yang lebih besar (4.3 triliun) untuk subsisi BBM (Rp. 2.83 triliun), subsidi listrik (Rp. 280 miliar), dana bagi hasil untuk daerah (Rp. 470 miliar dan kenaikan anggaran pendidikan (Rp. 720 miliar).
Dengan kondisi tesebut, maka alasan pemerintah menaikan harga BBM dinilai sudah cukup tepat. Dana penghematan subsidi dari BBM akan dialihkan sebagian untuk program kompensasi seperti pemberian raskin, BLSM, bantuan bagi rumah tangga miskin dan kompnsasi disektor transportasi serta sisanya dialokasikan untuk tambahan belanja dibidang infrastuktur dan perbaikan layanan publik.
Secara keseluruhan, akan dilaksanakan optimalisasi anggaran yang mencakup juga pemotongan berbagai belanja non operasional pemerintah dan penurunan subsidi BBM, dan dari total dana tersebut sebagian akan dialokasikan untuk mendukung pengembangan pusat-pusat pertumbuhan baru yang disesuaikan dengan Master Plan Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).

Sumber:
Website Kementerian ESDM http://esdm.go.id
Website Badan Pusat Statistik (BPS) http://www.bps.go.id
Website Universitas Negeri Solo, http://dglib.uns.ac.id/
berbagai sumber

One comment

  1. Salam,
    maaf boleh tau apa deskripsi dari jenis utama minyak mentah utama indonesia, seperti contohnya attaka itu dari mana atau deskripsi tentang attaka dan yg lain nya…

    terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s